Jumat, 23 November 2012

Jomblo is Beautiful


Menjadi Jomblo Adalah Anugerah-Nya
Aku ingin bercerita tentang kisahku beberapa tahun yang lalu. Aku yang selalu merasa bahwa Allah tidak adil padaku, padahal sebenarnya akulah yang tidak tau betapa indahnya rencana Allah untuk aku. Aku selalu iri pada teman-temanku, kadang juga malu. Mereka sudah memiliki pasangan, pasangan yang sebenarnya belum halal untuk mereka. Dulu aku berfikir bahwa pacaran itu memang indah, bisa jalan kemana-mana berdua. Hidup sepertinya jadi indah dengan adanya kekasih hati yang selalu ada disamping kita. Padahal kekasih hati yang sebenarnya dan selalu setia serta tak pernah meninggalkan kita hanyalah Allah SWT. Jomblo, itu julukanku. Seorang remaja laki-laki yang tak memiliki kekasih. Hidup diantara mereka yang sudah memiliki pasangan sungguh sangat menyiksa hatiku. Disaat aku berkumpul dengan kawan-kawanku, aku tak mampu berkata dan bercerita apa-apa. Karena setiap kali aku berkumpul bersama mereka, topik utama yang menjadi obrolan mereka adalah pacarnya masing-masing. Ada yang menceritakan kebaikan pacar-pacarnya. Ada yang menceritakan hal-hal indah bersama pacarnya. Ada juga yang menceritakan kegalauannya ketika sang pacar tau bahwa dirinya telah mendua. Mereka membanggakan pacar-pacar mereka, lantas apa yang bisa aku banggakan pacar saja tidak punya.
Aku teringat saat aku masih SMP. Saat itu adalah saat dimana aku mulai memandang seorang wanita sebagai makhluk Allah yang indah. Ada teman sekelasku, namanya Faizah. Dia seorang gadis yang sangat manis, cantik,dan pintar. Banyak teman-temanku yang suka padanya. Setiap kali jam istirahat, aku dan teman-temanku selalu membicarakan Faizah. Teman- temanku saling berebut untuk mendapatkan Faizah. Mereka selalu memandangi Faizah dan menggodanya dengan rayuan lugu ala anak-anak SMP. Aku memang anaknya pemalu. Aku diam saja ketika teman-temanku menggoda Faizah, padahal dalam hatiku aku sangat geram dan mungkin cemburu. Tapi Faizah bukan pacarku,mengapa aku harus cemburu ya? Dalam hati, aku juga ingin seperti teman-temanku, bisa menggoda Faizah dan berharap dia merespon kehadiranku. Keinginan hati sangat kuat, namun besarnya rasa malu dalam diriku mengalahkan kuatnya keinginan dalam hatiku. Hingga suatu saat ternyata salah satu teman baikku bernama Rahmat telah jadian dengan Faizah dan resmi menjadi pasangan kekasih, meskipun hanya sebagai pasangan kekasih yang belum halal. Aku sangat sedih akan hal ini, setiap hari aku harus melihat mereka berdua bercanda, berangkat bersama, makan bersama. Bahkan mungkin dalam fikir mereka dunia hanya milik berdua. Ya sudahlah, biarkan mereka bersama dan aku terus berusaha untuk melupakan Faizah dan mencari gadis lain untuk menjadi pacarku. Hari-hariku menjadi sepi semenjak Rahmat jadian dengan Faizah. Dulu Rahmat yang selalu main denganku, berangkat sekolah bersama dan juga setelah pulang sekolah kami bermain bersama-sama lagi. Kini Rahmat telah memiliki pacar, sehingga dia lebih senang bersama pacarnya daripada bermain bersamaku. Semua teman-temanku sudah memiliki pacar, hanya diriku yang masih sendiri.
Tak terasa tiga tahun telah kami lalui bersama di sekolah. Selama tiga tahun ini banyak sekali kisah cinta yang teman-temanku hadapi. Dari yang sangat setia dengan pacarnya, sampai yang selalu menduakan bahkan mentigakan pacarnya. Hanya diriku yang tak memiliki kisah cinta selama masa SMP, karena aku tak pernah menjalin cinta dengan siapapun. Pasangan kekasih yang masih setia sejak kelas 1 SMP sampai kelas 3 adalah Rahmat dan Faizah. Cinta mereka mungkin bukanlah cinta monyet yang sering dijalani oleh anak-anak SMP, sehingga kesetiaan mereka bisa terjaga dengan baik. Setelah lulus SMP aku dan Rahmat melanjutkan ke salah satu SMA Negeri di kotaku, sedangkan Faizah melanjutkan SMA di luar kota karena mengikuti ayahnya yang juga dipindahtugaskan ke luar kota. Sejak Rahmat dan Faizah berpisah, hubungan mereka menjadi renggang.
Kini aku dan Rahmat mempunyai suasana yang baru di sekolah yang baru yaitu SMA. Di SMA ini aku memiliki banyak teman baru begitu juga dengan Rahmat. Disini banyak sekali teman-teman yang berasal dari lain kota sehingga banyak sekali perbedaan diantara kami. Aku dan Rahmat tidak kesulitan dalam mencari teman. Disini banyak sekali teman-teman wanita yang cantik-cantik. Aku dan Rahmat sering curi-curi pandang pada mereka sampai akhirnya pandanganku terhenti pada seorang gadis manis dan berjilbab yang bernama Shifa. Menurut pandanganku Shifa adalah gadis paling sempurna di sekolahku. Sikapku terhadap wanita masih sama seperti saat aku SMP. Aku tak berani mengatakan bagaimana perasaanku pada wanita secara langsung. Aku sungguh bukan lelaki yang gentelman. Kesetiaan Rahmat pada Faizah diuji disini. Ada seorang gadis yang dekat dengan Rahmat, sepertinya dia suka pada Rahmat. Dia bernama Della. Della selalu mendekati Rahmat. Ada saja alasan Della untuk mendekati Rahmat, minta diajari PR, tanya pelajaran yang sulit, atau sekedar curhat. Awalnya Rahmat biasa saja dengan keberadaan Della, tapi lambat laun timbul perasaan suka dalam hati Rahmat. Hingga suatu saat Rahmat dan Della jadian tanpa sepengetahuan Faizah. Aku sudah mengingatkan pada Rahmat bahwa dia masih punya Faizah. Tapi Rahmat tetap tak menghiraukan kata-kataku, dia tetap jadian dengan Della. Kisahku dengan gadis yang aku suka, yaitu Shifa masih belum jelas. Namun hampir setiap hari aku dan Shifa berangkat sekolah bersama dengan sepeda. Rumah kami memang berjauhan, tapi satu arah ketika hendak menuju ke sekolah. Aku dan Shifa selalu bertemu terlebih dahulu di pertigaan setiap berangkat sekolah. Aku belum berangkat sebelum ada Shifa disana, dan Shifa juga belum berangkat sebelum ada aku disana. Kadang Aku yang tiba lebih awal dipertigaan, dan aku tidak keberatan untuk menunggu Shifa, begitu juga dengan Shifa ketika aku belum datang dia juga dengan senang hati menungguku. Sepanjang perjalananku kesekolah bersama Shifa selalu menyenangkan, aku dan dia selalu ngobrol dengan asyik sehingga tak terasa sudah tiba di sekolah. Aku merasa jarak sekolah sejauh 6 Km sangat dekat dengan adanya Shifa yang mendampingi perjalananku. Bahkan aku rela jika harus bersepeda keliling dunia asalkan bersama dengan Shifa. Aku selalu bersemangat untuk berangkat sekolah. Satu tahun sudah kami lalui di SMA, satu tahun juga aku selalu berangkat sekolah bersama Shifa. Kini aku sudah bertekad dan memberanikan diri untuk menyatakan perasaanku pada Shifa. Tepat di hari valentine aku berangkat dengan semangat membawa sebuah cokelat dan setangkai bunga mawar untuk aku berikan pada Shifa. Aku berangkat lebih awal dengan harapan aku yang lebih dulu tiba dipertigaan dan memberikan bunga mawar serta cokelat. Kurang lebih pukul 6.15 aku sudah sampai dipertigaan. Aku menunggu Shifa datang dengan hati yang berbunga-bunga. Tapi tak seperti biasanya, waktu sudah menunjukkan pukul 6.30 namun Shifa belum juga datang. Aku tetap menunggu mungkin Shifa bangun kesiangan jadi dia agak telat. Kini waktu sudah menunjukkan pukul 6.50 dan 10 menit lagi sudah masuk. Tiba-tiba Shifa datang, namun dia dibonceng seorang lelaki yang juga masih sekolah, tapi tidak disekolahku. Dia mengemudikan sepeda motornya dengan kencang sampai Shifa tidak melihat keberadaanku. Aku langsung berangkat kesekolah karena waktu sudah siang dan dipastikan aku akan terlambat. Aku mengayuh sepedaku dengan kencang dan berharap tidak terlambat masuk kelas terlalu lama. Aku mengayuh dengan perasaan yang sedih dan cemburu. Sampai di sekolah aku langsung ke ruang BK dan minta izin untuk diperbolehkan masuk kelas. Saat istirahat tiba aku hanya duduk di dalam kelas dan berdiam diri.Tiba-tiba Shifa datang dan menyapaku,
Shifa : “Hay Didik?”.
Aku : “Hay.”
Shifa : “Kenapa di dalam kelas saja,kan sudah waktunya istirahat?”
Aku : “ Iya, aku sedang capek dan ingin sendiri di kelas.”
Shifa :“Sepertinya kamu ada masalah, jika kamu bersedia menceritakannya padaku,aku siap mendengarkannya.”
Aku : “ Aku gak ada masalah.”
Shifa : “ Oh, ya sudah, aku keluar dulu ya.”
Aku : “iya”.
Shifa berjalan meninggalkanku hendak menuju luar kelas, namun aku memanggilnya.
Aku : “Shifa..”
Shifa : “Iya kenapa Dik?”
Aku : “Tadi pagi kamu berangkat sama siapa?”
Shifa : “Oh,tadi pagi aku berangkat sama tetanggaku. Oh iya maaf aku tidak memberi kabar pada kamu kalau aku tidak bisa berangkat bersama kamu tadi pagi.”
Aku : “Oh ya sudah tidak apa-apa.”
Shifa : “Maaf ya tadi sudah membuatmu menunggu sampai kamu telat datang ke sekolah.”
Aku : “ Iya tidak apa-apa. Oh iya tapi besok kita bisa berangkat sekolah bersama lagi kan?”
Shifa : “Maaf ya, aku kemarin baru saja dibelikan sepeda motor oleh Ayah, jadi besok aku berangkat pakai sepeda motor.”
Aku: “Oh begitu, ya sudah.”
Aku sangat sedih akan hal ini, kini akan ku mulai perjalanan jauh menuju sekolah sendiri. Cokelat dan setangkai bunga mawar yang telah aku siapkan untuk Shifa ku buang begitu saja. Pupus sudah harapanku untuk bisa memiliki pacar yang cantik dan baik seperti Shifa.
Tiga tahun berlalu di SMA ini dan kisah cintaku sama seperti kisahku saat SMP, tak pernah memiliki pacar dan selalu kesepian. Sedangkan temanku Rahmat sudah memiliki kekasih baru yaitu Della dan melupakan pacarnya saat SMP yaitu Faizah. Cinta mereka mampu bertahan selama 3 tahun di SMA. Mungkin cinta mereka mampu bertahan lebih dari itu,atau mungkin hanya berhenti sampai disitu. Aku dan Rahmat melanjutkan ke Perguruan tinggi di Purwokerto, yaitu di Universitas Jenderal Soedirman. Aku diterima di Fakultas Peternakan dan Rahmat diterima di Fakultas Teknik. Della melanjutkan pendidikannya di Universitas Indonesia dan dia mengambil jurusan Kedokteran .
Saat-saat yang paling berkesan ketika awal masuk kampus adalah saat ospek. Saat ospek ini aku bertemu dengan teman-teman baru dari daerah yang berbeda-beda. Aku masih agak canggung untuk menggunakan bahasa Indonesia, karena keseharianku menggunakan bahasa jawa, namun aku berusaha untuk membiasakan diri menggunakan bahasa Indonesia. Saat ospek ada kegiatan yang namanya memperkenalkan potensi peternakan di daerahnya. Aku sebenarnya ingin sekali untuk maju ke depan, namun mentalku belum berani. Banyak diantara teman-temanku yang maju, ada dari daerah Purbalingga,dia menceritakan tentang kambing Kejobong. Kemudian ada dari Bali, dia menceritakan tentang sapi Bali, dan ada juga dari Brebes yang menceritakan tentang industri telur asin. Mengapa dari daerahku tidak ada, aku berkata dalam hatiku. Tiba-tiba ada seorang gadis cantik, manis,dan juga berjilbab. Dia maju dan menceritakan tentang Potensi industri susu Kambing Peranakan Etawa yang merupakan kambing khas dari daerahku. Oh ternyata gadis itu berasal dari daerah yang sama denganku.Ternyata gadis itu bernama Zahra. Aku ingin sekali mendapatkan nomer Hpnya dan kenal lebih dekat dengan Zahra.
Suatu hari aku dan Rahmat hendak pulang ke daerahku karena mau merayakan Idul Fitri dirumah. Kami hanya 5 hari di Purwokerto untuk ospek. Sampai diterminal aku bertemu dengan Zahra. Aku ingin menyapanya tapi aku malu. Aku pura-pura tidak melihat Zahra. Namun aku dengar seseorang memanggilku dan ternyata Zahra yang memanggilku. Jantungku berdegup kencang, mungkin karena aku grogi melihat seorang gadis manis di depanku. Aku sangat senang karena ternyata Zahra sudah mengenal aku. Aku, Rahmat, Zahra dan satu teman Zahra,yaitu Meida naik bus bersama untuk menuju kampung halaman. Di Bus aku hanya diam sambil melihat pemandangan di jalan sambil sesekali curi-curi pandang pada Zahra. Zahra memecah keheningan dalam bus ini, dia mengawali perbincangan kami berempat. Zahra ternyata orangnya ramah dan baik hati. Dia meminta nomer HP pada aku dan Rahmat. Aku sangat senang akan hal ini. Tiga jam berlalu dan kami sudah sampai terminal. Kami semua berpisah dan menuju rumah masing-masing.
Pada malam harinya ada SMS masuk dan ternyata Zahra SMS aku. Dia hanya memberitahu kalau ini nomer HPnya. Akhirnya aku mendapakkan nomer HP Zahra. Aku sering SMS Zahra, tapi hanya SMS yang penting yang dia jawab. Jika aku hanya menanyakan dia sedang apa, pasti dia tak mau menjawabnya. Aku menanyakan padanya UKM apa yang dia ikuti, ternyata dia mengikuti UKM Penelitian dan UKM Kerohanian Islam. Aku harus ikut UKM itu juga,agar aku bisa lebih dekat dengannya. Awal masa perkuliahan dimulai, disini aku memasuki dunia baru yang agak asing bagiku. Bertemu dosen dan teman-teman dari lain daerah. Kegiatan mahasiswa juga dimulai seiring dimulainya perkuliahan. UKM yang mengadakan kegiatan pertama adalah UKM Penelitian. Aku dengan semangat mengikuti UKM itu karena disitulah aku bisa bertemu dengan Zahra. Kemudian UKM kerohanian Islam juga mengadakan kegiatan dan aku juga dengan semangat mengikutinya. Aku lebih fokus pada UKM Kerohanian Islam, karena Zahra juga aktif di UKM ini. Dia terlihat sangat berpengalaman dalam organisasi, sementara aku baru saja mengenal organisasi. Beberapa bulan aku mengikuti kegiatan-kegiatan pada organisasi Kerohanian Islam itu membuat aku berubah. Aku menjadi lebih paham tentang Islam. Islam sangat menjaga hubungan antara wanita dan laki-laki. Disini aku baru tahu kalau pacaran itu ternyata haram. Sejak saat itu aku tak lagi mencari-cari wanita untuk menjadi pacarku. Aku merasa bangga karena aku masih jomblo sampai saat ini.
            Aku menjalani hari-hari dengan semangat belajar untuk kuliah. Semangatku selalu ada karena ada seorang gadis sholeha disana. Dia adalah Zahra. Aku tetap menjaga jarak dengan Zahra. Aku juga menjaga jarak dengan teman-teman wanitaku. Aku memang menyukai Zahra, tapi aku memahami sifat dan kepribadian Zahra dengan hubungan sebatas teman, bukan melalui pacaran yang hanya membuat dosa. Aku lebih mendalami ilmu-ilmu Islam yang belum aku ketahui. Awalnya memang aku mempelajari Islam karena Zahra, karena aku tak ingin terlihat bodoh dihadapan Zahra. Tapi makin jauh aku mempelajari Islam, aku menjadi sadar dan kini aku mempelajari Islam bukan karena Zahra, tapi ikhlas karena Allah SWT. Empat tahun aku kuliah, kini aku mendapatkan banyak ilmu, baik ilmu Peternakan maupun ilmu Agama Islam yang aku dapatkan dari UKM Kerohanian Islam yang aku ikuti. Setelah lulus kuliah ini, alhamdulillah aku mendapatkan pekerjaanku di Dinas Peternakan demikian juga dengan Zahra. Setelah 1 tahun bekerja aku memberanikan diri untuk melamar Zahra. Aku mendatangi rumah Zahra beserta kedua orang tuaku dan alhamdulillah Zahra mau menerima lamaranku. Kini hidupku sudah lengkap, karena ada seorang wanita yang mendampingi aku. Aku sangat bersyukur memiliki istri yang sholehah dan mampu mengubah pandangan hidupku yang semula agak salah.
            Ternyata Allah memiliki rencana yang sangat indah untuk diriku. Allah menjaga hubunganku dengan wanita, sehingga akhirnya aku bisa memiliki pasangan hidup yang sholehah. Kisah ini terinspirasi dari kisah hidupku sendiri dan kisah hidup yang aku harapkan di kemudian hari.
THE END

Jomblo is Beautiful


Menjadi Jomblo Adalah Anugerah-Nya
Aku ingin bercerita tentang kisahku beberapa tahun yang lalu. Aku yang selalu merasa bahwa Allah tidak adil padaku, padahal sebenarnya akulah yang tidak tau betapa indahnya rencana Allah untuk aku. Aku selalu iri pada teman-temanku, kadang juga malu. Mereka sudah memiliki pasangan, pasangan yang sebenarnya belum halal untuk mereka. Dulu aku berfikir bahwa pacaran itu memang indah, bisa jalan kemana-mana berdua. Hidup sepertinya jadi indah dengan adanya kekasih hati yang selalu ada disamping kita. Padahal kekasih hati yang sebenarnya dan selalu setia serta tak pernah meninggalkan kita hanyalah Allah SWT. Jomblo, itu julukanku. Seorang remaja laki-laki yang tak memiliki kekasih. Hidup diantara mereka yang sudah memiliki pasangan sungguh sangat menyiksa hatiku. Disaat aku berkumpul dengan kawan-kawanku, aku tak mampu berkata dan bercerita apa-apa. Karena setiap kali aku berkumpul bersama mereka, topik utama yang menjadi obrolan mereka adalah pacarnya masing-masing. Ada yang menceritakan kebaikan pacar-pacarnya. Ada yang menceritakan hal-hal indah bersama pacarnya. Ada juga yang menceritakan kegalauannya ketika sang pacar tau bahwa dirinya telah mendua. Mereka membanggakan pacar-pacar mereka, lantas apa yang bisa aku banggakan pacar saja tidak punya.
Aku teringat saat aku masih SMP. Saat itu adalah saat dimana aku mulai memandang seorang wanita sebagai makhluk Allah yang indah. Ada teman sekelasku, namanya Faizah. Dia seorang gadis yang sangat manis, cantik,dan pintar. Banyak teman-temanku yang suka padanya. Setiap kali jam istirahat, aku dan teman-temanku selalu membicarakan Faizah. Teman- temanku saling berebut untuk mendapatkan Faizah. Mereka selalu memandangi Faizah dan menggodanya dengan rayuan lugu ala anak-anak SMP. Aku memang anaknya pemalu. Aku diam saja ketika teman-temanku menggoda Faizah, padahal dalam hatiku aku sangat geram dan mungkin cemburu. Tapi Faizah bukan pacarku,mengapa aku harus cemburu ya? Dalam hati, aku juga ingin seperti teman-temanku, bisa menggoda Faizah dan berharap dia merespon kehadiranku. Keinginan hati sangat kuat, namun besarnya rasa malu dalam diriku mengalahkan kuatnya keinginan dalam hatiku. Hingga suatu saat ternyata salah satu teman baikku bernama Rahmat telah jadian dengan Faizah dan resmi menjadi pasangan kekasih, meskipun hanya sebagai pasangan kekasih yang belum halal. Aku sangat sedih akan hal ini, setiap hari aku harus melihat mereka berdua bercanda, berangkat bersama, makan bersama. Bahkan mungkin dalam fikir mereka dunia hanya milik berdua. Ya sudahlah, biarkan mereka bersama dan aku terus berusaha untuk melupakan Faizah dan mencari gadis lain untuk menjadi pacarku. Hari-hariku menjadi sepi semenjak Rahmat jadian dengan Faizah. Dulu Rahmat yang selalu main denganku, berangkat sekolah bersama dan juga setelah pulang sekolah kami bermain bersama-sama lagi. Kini Rahmat telah memiliki pacar, sehingga dia lebih senang bersama pacarnya daripada bermain bersamaku. Semua teman-temanku sudah memiliki pacar, hanya diriku yang masih sendiri.
Tak terasa tiga tahun telah kami lalui bersama di sekolah. Selama tiga tahun ini banyak sekali kisah cinta yang teman-temanku hadapi. Dari yang sangat setia dengan pacarnya, sampai yang selalu menduakan bahkan mentigakan pacarnya. Hanya diriku yang tak memiliki kisah cinta selama masa SMP, karena aku tak pernah menjalin cinta dengan siapapun. Pasangan kekasih yang masih setia sejak kelas 1 SMP sampai kelas 3 adalah Rahmat dan Faizah. Cinta mereka mungkin bukanlah cinta monyet yang sering dijalani oleh anak-anak SMP, sehingga kesetiaan mereka bisa terjaga dengan baik. Setelah lulus SMP aku dan Rahmat melanjutkan ke salah satu SMA Negeri di kotaku, sedangkan Faizah melanjutkan SMA di luar kota karena mengikuti ayahnya yang juga dipindahtugaskan ke luar kota. Sejak Rahmat dan Faizah berpisah, hubungan mereka menjadi renggang.
Kini aku dan Rahmat mempunyai suasana yang baru di sekolah yang baru yaitu SMA. Di SMA ini aku memiliki banyak teman baru begitu juga dengan Rahmat. Disini banyak sekali teman-teman yang berasal dari lain kota sehingga banyak sekali perbedaan diantara kami. Aku dan Rahmat tidak kesulitan dalam mencari teman. Disini banyak sekali teman-teman wanita yang cantik-cantik. Aku dan Rahmat sering curi-curi pandang pada mereka sampai akhirnya pandanganku terhenti pada seorang gadis manis dan berjilbab yang bernama Shifa. Menurut pandanganku Shifa adalah gadis paling sempurna di sekolahku. Sikapku terhadap wanita masih sama seperti saat aku SMP. Aku tak berani mengatakan bagaimana perasaanku pada wanita secara langsung. Aku sungguh bukan lelaki yang gentelman. Kesetiaan Rahmat pada Faizah diuji disini. Ada seorang gadis yang dekat dengan Rahmat, sepertinya dia suka pada Rahmat. Dia bernama Della. Della selalu mendekati Rahmat. Ada saja alasan Della untuk mendekati Rahmat, minta diajari PR, tanya pelajaran yang sulit, atau sekedar curhat. Awalnya Rahmat biasa saja dengan keberadaan Della, tapi lambat laun timbul perasaan suka dalam hati Rahmat. Hingga suatu saat Rahmat dan Della jadian tanpa sepengetahuan Faizah. Aku sudah mengingatkan pada Rahmat bahwa dia masih punya Faizah. Tapi Rahmat tetap tak menghiraukan kata-kataku, dia tetap jadian dengan Della. Kisahku dengan gadis yang aku suka, yaitu Shifa masih belum jelas. Namun hampir setiap hari aku dan Shifa berangkat sekolah bersama dengan sepeda. Rumah kami memang berjauhan, tapi satu arah ketika hendak menuju ke sekolah. Aku dan Shifa selalu bertemu terlebih dahulu di pertigaan setiap berangkat sekolah. Aku belum berangkat sebelum ada Shifa disana, dan Shifa juga belum berangkat sebelum ada aku disana. Kadang Aku yang tiba lebih awal dipertigaan, dan aku tidak keberatan untuk menunggu Shifa, begitu juga dengan Shifa ketika aku belum datang dia juga dengan senang hati menungguku. Sepanjang perjalananku kesekolah bersama Shifa selalu menyenangkan, aku dan dia selalu ngobrol dengan asyik sehingga tak terasa sudah tiba di sekolah. Aku merasa jarak sekolah sejauh 6 Km sangat dekat dengan adanya Shifa yang mendampingi perjalananku. Bahkan aku rela jika harus bersepeda keliling dunia asalkan bersama dengan Shifa. Aku selalu bersemangat untuk berangkat sekolah. Satu tahun sudah kami lalui di SMA, satu tahun juga aku selalu berangkat sekolah bersama Shifa. Kini aku sudah bertekad dan memberanikan diri untuk menyatakan perasaanku pada Shifa. Tepat di hari valentine aku berangkat dengan semangat membawa sebuah cokelat dan setangkai bunga mawar untuk aku berikan pada Shifa. Aku berangkat lebih awal dengan harapan aku yang lebih dulu tiba dipertigaan dan memberikan bunga mawar serta cokelat. Kurang lebih pukul 6.15 aku sudah sampai dipertigaan. Aku menunggu Shifa datang dengan hati yang berbunga-bunga. Tapi tak seperti biasanya, waktu sudah menunjukkan pukul 6.30 namun Shifa belum juga datang. Aku tetap menunggu mungkin Shifa bangun kesiangan jadi dia agak telat. Kini waktu sudah menunjukkan pukul 6.50 dan 10 menit lagi sudah masuk. Tiba-tiba Shifa datang, namun dia dibonceng seorang lelaki yang juga masih sekolah, tapi tidak disekolahku. Dia mengemudikan sepeda motornya dengan kencang sampai Shifa tidak melihat keberadaanku. Aku langsung berangkat kesekolah karena waktu sudah siang dan dipastikan aku akan terlambat. Aku mengayuh sepedaku dengan kencang dan berharap tidak terlambat masuk kelas terlalu lama. Aku mengayuh dengan perasaan yang sedih dan cemburu. Sampai di sekolah aku langsung ke ruang BK dan minta izin untuk diperbolehkan masuk kelas. Saat istirahat tiba aku hanya duduk di dalam kelas dan berdiam diri.Tiba-tiba Shifa datang dan menyapaku,
Shifa : “Hay Didik?”.
Aku : “Hay.”
Shifa : “Kenapa di dalam kelas saja,kan sudah waktunya istirahat?”
Aku : “ Iya, aku sedang capek dan ingin sendiri di kelas.”
Shifa :“Sepertinya kamu ada masalah, jika kamu bersedia menceritakannya padaku,aku siap mendengarkannya.”
Aku : “ Aku gak ada masalah.”
Shifa : “ Oh, ya sudah, aku keluar dulu ya.”
Aku : “iya”.
Shifa berjalan meninggalkanku hendak menuju luar kelas, namun aku memanggilnya.
Aku : “Shifa..”
Shifa : “Iya kenapa Dik?”
Aku : “Tadi pagi kamu berangkat sama siapa?”
Shifa : “Oh,tadi pagi aku berangkat sama tetanggaku. Oh iya maaf aku tidak memberi kabar pada kamu kalau aku tidak bisa berangkat bersama kamu tadi pagi.”
Aku : “Oh ya sudah tidak apa-apa.”
Shifa : “Maaf ya tadi sudah membuatmu menunggu sampai kamu telat datang ke sekolah.”
Aku : “ Iya tidak apa-apa. Oh iya tapi besok kita bisa berangkat sekolah bersama lagi kan?”
Shifa : “Maaf ya, aku kemarin baru saja dibelikan sepeda motor oleh Ayah, jadi besok aku berangkat pakai sepeda motor.”
Aku: “Oh begitu, ya sudah.”
Aku sangat sedih akan hal ini, kini akan ku mulai perjalanan jauh menuju sekolah sendiri. Cokelat dan setangkai bunga mawar yang telah aku siapkan untuk Shifa ku buang begitu saja. Pupus sudah harapanku untuk bisa memiliki pacar yang cantik dan baik seperti Shifa.
Tiga tahun berlalu di SMA ini dan kisah cintaku sama seperti kisahku saat SMP, tak pernah memiliki pacar dan selalu kesepian. Sedangkan temanku Rahmat sudah memiliki kekasih baru yaitu Della dan melupakan pacarnya saat SMP yaitu Faizah. Cinta mereka mampu bertahan selama 3 tahun di SMA. Mungkin cinta mereka mampu bertahan lebih dari itu,atau mungkin hanya berhenti sampai disitu. Aku dan Rahmat melanjutkan ke Perguruan tinggi di Purwokerto, yaitu di Universitas Jenderal Soedirman. Aku diterima di Fakultas Peternakan dan Rahmat diterima di Fakultas Teknik. Della melanjutkan pendidikannya di Universitas Indonesia dan dia mengambil jurusan Kedokteran .
Saat-saat yang paling berkesan ketika awal masuk kampus adalah saat ospek. Saat ospek ini aku bertemu dengan teman-teman baru dari daerah yang berbeda-beda. Aku masih agak canggung untuk menggunakan bahasa Indonesia, karena keseharianku menggunakan bahasa jawa, namun aku berusaha untuk membiasakan diri menggunakan bahasa Indonesia. Saat ospek ada kegiatan yang namanya memperkenalkan potensi peternakan di daerahnya. Aku sebenarnya ingin sekali untuk maju ke depan, namun mentalku belum berani. Banyak diantara teman-temanku yang maju, ada dari daerah Purbalingga,dia menceritakan tentang kambing Kejobong. Kemudian ada dari Bali, dia menceritakan tentang sapi Bali, dan ada juga dari Brebes yang menceritakan tentang industri telur asin. Mengapa dari daerahku tidak ada, aku berkata dalam hatiku. Tiba-tiba ada seorang gadis cantik, manis,dan juga berjilbab. Dia maju dan menceritakan tentang Potensi industri susu Kambing Peranakan Etawa yang merupakan kambing khas dari daerahku. Oh ternyata gadis itu berasal dari daerah yang sama denganku.Ternyata gadis itu bernama Zahra. Aku ingin sekali mendapatkan nomer Hpnya dan kenal lebih dekat dengan Zahra.
Suatu hari aku dan Rahmat hendak pulang ke daerahku karena mau merayakan Idul Fitri dirumah. Kami hanya 5 hari di Purwokerto untuk ospek. Sampai diterminal aku bertemu dengan Zahra. Aku ingin menyapanya tapi aku malu. Aku pura-pura tidak melihat Zahra. Namun aku dengar seseorang memanggilku dan ternyata Zahra yang memanggilku. Jantungku berdegup kencang, mungkin karena aku grogi melihat seorang gadis manis di depanku. Aku sangat senang karena ternyata Zahra sudah mengenal aku. Aku, Rahmat, Zahra dan satu teman Zahra,yaitu Meida naik bus bersama untuk menuju kampung halaman. Di Bus aku hanya diam sambil melihat pemandangan di jalan sambil sesekali curi-curi pandang pada Zahra. Zahra memecah keheningan dalam bus ini, dia mengawali perbincangan kami berempat. Zahra ternyata orangnya ramah dan baik hati. Dia meminta nomer HP pada aku dan Rahmat. Aku sangat senang akan hal ini. Tiga jam berlalu dan kami sudah sampai terminal. Kami semua berpisah dan menuju rumah masing-masing.
Pada malam harinya ada SMS masuk dan ternyata Zahra SMS aku. Dia hanya memberitahu kalau ini nomer HPnya. Akhirnya aku mendapakkan nomer HP Zahra. Aku sering SMS Zahra, tapi hanya SMS yang penting yang dia jawab. Jika aku hanya menanyakan dia sedang apa, pasti dia tak mau menjawabnya. Aku menanyakan padanya UKM apa yang dia ikuti, ternyata dia mengikuti UKM Penelitian dan UKM Kerohanian Islam. Aku harus ikut UKM itu juga,agar aku bisa lebih dekat dengannya. Awal masa perkuliahan dimulai, disini aku memasuki dunia baru yang agak asing bagiku. Bertemu dosen dan teman-teman dari lain daerah. Kegiatan mahasiswa juga dimulai seiring dimulainya perkuliahan. UKM yang mengadakan kegiatan pertama adalah UKM Penelitian. Aku dengan semangat mengikuti UKM itu karena disitulah aku bisa bertemu dengan Zahra. Kemudian UKM kerohanian Islam juga mengadakan kegiatan dan aku juga dengan semangat mengikutinya. Aku lebih fokus pada UKM Kerohanian Islam, karena Zahra juga aktif di UKM ini. Dia terlihat sangat berpengalaman dalam organisasi, sementara aku baru saja mengenal organisasi. Beberapa bulan aku mengikuti kegiatan-kegiatan pada organisasi Kerohanian Islam itu membuat aku berubah. Aku menjadi lebih paham tentang Islam. Islam sangat menjaga hubungan antara wanita dan laki-laki. Disini aku baru tahu kalau pacaran itu ternyata haram. Sejak saat itu aku tak lagi mencari-cari wanita untuk menjadi pacarku. Aku merasa bangga karena aku masih jomblo sampai saat ini.
            Aku menjalani hari-hari dengan semangat belajar untuk kuliah. Semangatku selalu ada karena ada seorang gadis sholeha disana. Dia adalah Zahra. Aku tetap menjaga jarak dengan Zahra. Aku juga menjaga jarak dengan teman-teman wanitaku. Aku memang menyukai Zahra, tapi aku memahami sifat dan kepribadian Zahra dengan hubungan sebatas teman, bukan melalui pacaran yang hanya membuat dosa. Aku lebih mendalami ilmu-ilmu Islam yang belum aku ketahui. Awalnya memang aku mempelajari Islam karena Zahra, karena aku tak ingin terlihat bodoh dihadapan Zahra. Tapi makin jauh aku mempelajari Islam, aku menjadi sadar dan kini aku mempelajari Islam bukan karena Zahra, tapi ikhlas karena Allah SWT. Empat tahun aku kuliah, kini aku mendapatkan banyak ilmu, baik ilmu Peternakan maupun ilmu Agama Islam yang aku dapatkan dari UKM Kerohanian Islam yang aku ikuti. Setelah lulus kuliah ini, alhamdulillah aku mendapatkan pekerjaanku di Dinas Peternakan demikian juga dengan Zahra. Setelah 1 tahun bekerja aku memberanikan diri untuk melamar Zahra. Aku mendatangi rumah Zahra beserta kedua orang tuaku dan alhamdulillah Zahra mau menerima lamaranku. Kini hidupku sudah lengkap, karena ada seorang wanita yang mendampingi aku. Aku sangat bersyukur memiliki istri yang sholehah dan mampu mengubah pandangan hidupku yang semula agak salah.
            Ternyata Allah memiliki rencana yang sangat indah untuk diriku. Allah menjaga hubunganku dengan wanita, sehingga akhirnya aku bisa memiliki pasangan hidup yang sholehah. Kisah ini terinspirasi dari kisah hidupku sendiri dan kisah hidup yang aku harapkan di kemudian hari.
THE END

Kisahku Untukmu


Kisahku Untukmu

Aku teringat saat kepergianku pertama menuju Purwokerto untuk belajar di Universitas Jenderal Soedirman. Saat kepergianku ke Purwokerto, ibu, ayah, dan adikku mengantarkan aku sampai ke Pertigaan dekat kantor polisi Pituruh untuk menunggu temanku bersama keluarganya yang akan mengantar kami ke Purwokerto dengan mobil. Ayahku membawakan sekarung beras ukuran 10 kg, namun sepertinya lebih dari 10 kg, karena ayahku mengemasnya dengan padat. Sudah membawa beras seberat itu, masih ditambah dengan tas koper yang berisi pakaianku saat di Purwokerto nanti. Betapa kuatnya ayahku, karena beliau membawa semuanya itu hanya dengan sepeda ontel. Bahkan aku hanya membonceng adikku, padahal adikku masih terlalu lemah untuk membawa beban seberat tubuhku ini menggunakan sepeda. Saat itu aku hanya seperti raja yang memerintah bawahannya. Aku sangat berdosa. Tak lama kemudian ibuku menyusul dengan mengayuh sepeda tuanya. Ibu membawakan aku jaket agar aku tak kedinginan saat jauh darinya, tampak sekali wajahnya yang lelah. Aku tau pasti ibu mengayuh sepedanya dengan kencang karena takut aku sudah berangkat. Namun aku menolak membawa jaket itu karena terlalu kecil. Pasti ibu sangat kecewa saat itu. Aku sudah menyia-nyiakan perjuangan ibu untuk sampai disini. Aku menyesali kejadian itu. Jika waktu bisa kembali, aku akan menerima jaket dari ibu dan mengucapkan terimakasih serta mencium tangannya.  Betapa besar perjuangannya.
Aku sudah janjian dengan temanku dilokasi itu dan berencana berangkat jam 13.00. namun temanku dan keluarganya tak kunjung dating. Saat itu cuaca sangat panas dan terik. Ibu, ayah, dan adikku aku suruh pulang dahulu. Namun mereka menolak dan baru akan pulang ketika aku sudah naik mobil dan berangkat. Aku sangat kasihan pada ayah dan ibuku, karena baru saja mereka pulang dari sawah dan langsung mengantarku kepergianku, pasti mereka sangat lelah. Setelah jam 14.00 temanku dating bersama keluarganya. Kami saling bersalaman dan ayahku berkata pada keluarga temanku “nuwun sewu,ngrepoti niki kula titip anak kula”. Yang artinya maaf merepotkan, saya titip anak saya. Aku bersalaman pada ibu, ayah, dan adikku. Ayah berpesan padaku untuk sholat yang rajin dan belajar yang benar. Aku juga berpesan pada adikku untuk belajar yang baik. Aku pergi bersama temanku dan keluarganya dengan menggunakan mobil. Ibu, ayah, dan adikku pulang dengan mengendarai sepeda ontelnya masing-masing.
Hari-hari aku lewati di Purwokerto dengan senang. Karena disanaaku menemukan banyak teman baru. Hal ini membuat aku sedikit lupa dengan keluarga. Aku jarang telepon keluarga, sms pun jarang. Padahal ibu, ayah dan adikku selalu merindukan aku. Mungkin dengan sebuah sms saja mereka sudah cukup senang. Yang paling sedih ketika aku tinggalkna adalah adikku. Dia sering kali menangis ketika mengingat kakaknya tak ada didekatnya. Memang setiap hari aku selalu bercanda dan bermain dengan adikku. Bahkan aku dan adikku jarang sekali bertengkar. Mungkin keakraban inilah yang membuat adikku merasa sangat kehilangan aku saat aku tak di rumah. Setiap bulan aku sempatkan untuk pulang menjenguk keluarga. Hanya 3 hari aku dirumah dan pergi lagi untuk kuliah. Aku jarang membawa oleh-oleh untuk keluarga, padahal setiap aku pulang selalu dibawakan makanan dan cemilan oleh ibu sampai tasku penuh.