Kisahku Untukmu
Aku teringat saat kepergianku pertama
menuju Purwokerto untuk belajar di Universitas Jenderal Soedirman. Saat
kepergianku ke Purwokerto, ibu, ayah, dan adikku mengantarkan aku sampai ke
Pertigaan dekat kantor polisi Pituruh untuk menunggu temanku bersama
keluarganya yang akan mengantar kami ke Purwokerto dengan mobil. Ayahku
membawakan sekarung beras ukuran 10 kg, namun sepertinya lebih dari 10 kg,
karena ayahku mengemasnya dengan padat. Sudah membawa beras seberat itu, masih
ditambah dengan tas koper yang berisi pakaianku saat di Purwokerto nanti.
Betapa kuatnya ayahku, karena beliau membawa semuanya itu hanya dengan sepeda
ontel. Bahkan aku hanya membonceng adikku, padahal adikku masih terlalu lemah
untuk membawa beban seberat tubuhku ini menggunakan sepeda. Saat itu aku hanya
seperti raja yang memerintah bawahannya. Aku sangat berdosa. Tak lama kemudian
ibuku menyusul dengan mengayuh sepeda tuanya. Ibu membawakan aku jaket agar aku
tak kedinginan saat jauh darinya, tampak sekali wajahnya yang lelah. Aku tau
pasti ibu mengayuh sepedanya dengan kencang karena takut aku sudah berangkat.
Namun aku menolak membawa jaket itu karena terlalu kecil. Pasti ibu sangat kecewa
saat itu. Aku sudah menyia-nyiakan perjuangan ibu untuk sampai disini. Aku
menyesali kejadian itu. Jika waktu bisa kembali, aku akan menerima jaket dari
ibu dan mengucapkan terimakasih serta mencium tangannya. Betapa besar perjuangannya.
Aku sudah janjian dengan temanku
dilokasi itu dan berencana berangkat jam 13.00. namun temanku dan keluarganya
tak kunjung dating. Saat itu cuaca sangat panas dan terik. Ibu, ayah, dan
adikku aku suruh pulang dahulu. Namun mereka menolak dan baru akan pulang
ketika aku sudah naik mobil dan berangkat. Aku sangat kasihan pada ayah dan
ibuku, karena baru saja mereka pulang dari sawah dan langsung mengantarku
kepergianku, pasti mereka sangat lelah. Setelah jam 14.00 temanku dating
bersama keluarganya. Kami saling bersalaman dan ayahku berkata pada keluarga
temanku “nuwun sewu,ngrepoti niki kula titip anak kula”. Yang artinya maaf
merepotkan, saya titip anak saya. Aku bersalaman pada ibu, ayah, dan adikku.
Ayah berpesan padaku untuk sholat yang rajin dan belajar yang benar. Aku juga
berpesan pada adikku untuk belajar yang baik. Aku pergi bersama temanku dan
keluarganya dengan menggunakan mobil. Ibu, ayah, dan adikku pulang dengan
mengendarai sepeda ontelnya masing-masing.
Hari-hari aku lewati di Purwokerto
dengan senang. Karena disanaaku menemukan banyak teman baru. Hal ini membuat
aku sedikit lupa dengan keluarga. Aku jarang telepon keluarga, sms pun jarang.
Padahal ibu, ayah dan adikku selalu merindukan aku. Mungkin dengan sebuah sms
saja mereka sudah cukup senang. Yang paling sedih ketika aku tinggalkna adalah
adikku. Dia sering kali menangis ketika mengingat kakaknya tak ada didekatnya.
Memang setiap hari aku selalu bercanda dan bermain dengan adikku. Bahkan aku
dan adikku jarang sekali bertengkar. Mungkin keakraban inilah yang membuat
adikku merasa sangat kehilangan aku saat aku tak di rumah. Setiap bulan aku
sempatkan untuk pulang menjenguk keluarga. Hanya 3 hari aku dirumah dan pergi
lagi untuk kuliah. Aku jarang membawa oleh-oleh untuk keluarga, padahal setiap
aku pulang selalu dibawakan makanan dan cemilan oleh ibu sampai tasku penuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar